Mengungkap Akar Konflik di Suriah
Mengungkap Akar Konflik di Suriah
Konflik di Suriah dimulai pada tahun 2011, berakar dari banyak faktor yang kompleks dan saling terkait, baik secara sosial, politik, maupun ekonomi. Salah satu pendorong utama konflik ini adalah ketidakpuasan terhadap pemerintahan otoriter yang dipimpin oleh Bashar al-Assad. Sejak menggantikan ayahnya, Hafez al-Assad, yang berkuasa selama 30 tahun, Bashar telah melanjutkan kebijakan represif yang sama, termasuk pengekangan kebebasan berekspresi dan pelanggaran hak asasi manusia.
Ekonomi Suriah juga berkontribusi pada ketegangan ini. Dalam beberapa tahun sebelum konflik, Suriah menghadapi krisis ekonomi yang parah, dengan tingkat pengangguran yang tinggi dan meningkatnya harga pangan. Kekeringan yang berkepanjangan pada 2006-2011 semakin memperburuk situasi, membuat banyak petani kehilangan mata pencaharian mereka, yang mendorong migrasi massal ke kota-kota besar. Ketegangan antara kelas sosial semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kesenjangan ekonomi.
Aspek sosial pun tidak bisa diabaikan. Suriah merupakan negara pluralistik dengan berbagai kelompok etnis dan agama, termasuk Sunni, Alawi, Kristen, dan Kurdi. Pemerintahan al-Assad, yang berasal dari sekte Alawi, telah dituduh melakukan diskriminasi terhadap kelompok-kelompok lain. Ketidakpuasan yang meluas di antara Sunni, yang merupakan mayoritas, semakin memperburuk pembagian sosial yang ada.
Ketika protes damai dimulai pada Maret 2011, banyak demonstran menuntut reformasi demokratis dan kebebasan politik. Namun, pemerintah merespons dengan kekerasan. Tindakan represif tersebut mengubah protes menjadi konflik bersenjata yang melibatkan berbagai kelompok oposisi bersenjata dan militan.
Intervensi internasional juga memainkan peran penting dalam eskalasi konflik. Negara-negara seperti Rusia dan Iran memberikan dukungan militer dan keuangan kepada Assad, sementara koalisi negara-negara Barat dan Arab mendukung kelompok-kelompok pemberontak, mengakibatkan pertempuran yang berkepanjangan dan semakin rumit.
Fragmentasi lebih lanjut terjadi dengan munculnya kelompok ekstremis seperti ISIS, yang memanfaatkan kekacauan untuk memperluas kontrol wilayah mereka. Konflik ini kini tidak hanya mempertaruhkan masa depan Suriah, tetapi juga stabilitas kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.
Kulminasi dari berbagai faktor ini menunjukkan betapa rumitnya akar konflik di Suriah. Penyelidikan lebih mendalam atas isu etnis, politik, dan sosial akan diperlukan untuk memahami bagaimana penyelesaian yang berkelanjutan dapat dicapai. Hanya dengan dialog yang inklusif, Suriah dapat menemukan jalan menuju rekonsiliasi dan perdamaian yang langgeng.


